Oleh: Susi Rio Panjaitan
Sebagaimana tertulis dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlingungan Anak Pasal 11, bergaul dengan anak yang sebaya merupakan salah satu hak anak yang dijamin dan dilindungi oleh negara agar anak dapat bertumbuh dan berkembang dalam segala aspek dengan optimal. Selain itu, sejatinya manusia (termasuk anak-anak) adalah mahluk sosial. Tidak ada satu orang pun yang dapat hidup sendiri. Setiap orang, sejak lahir hingga akhir hayatnya pasti membutuhkan orang lain. Berinteraksi dengan orang lain adalah kebutuhan setiap orang. Dengan apik Erik Erikson, seorang psikolog dan psikoanalis terkenal berkebangsaan Jerman-Amerika menjelaskan teorinya tentang tahapan perkembangan psikososial manusia. Dari teorinya tersebut Erik Erikson menjelaskan bahwa interaksi individu dengan orang lain atau lingkungan sosial sangat menentukan pembentukan identitasnya.
Sayangnya, walaupun bergaul dengan teman sebaya merupakan hak sekaligus kebutuhan tumbuh kembang anak, nyatanya banyak anak yang mengalami masalah serius akibat pergaulannya. Ada anak yang mengalami masalah psikologis yang sangat serius akibat dibully oleh teman sekolahnya, ada anak yang mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh temannya sendiri, ada anak yang dijual kepada mucikari oleh seseorang yang diketahui sebagai sahabatnya, ada anak yang terjerumus dalam penggunaan rokok, minuman beralkohol dan narkotika akibat ajakan temannya. Tidak sedikit anak yang terlibat dalam tawuran, balap liar, vandalisme, perilaku anarkis, kehidupan hedon, dan seks bebas karena tidak mampu menolak tawaran teman. Bahkan, tidak sedikit anak yang berkonflik dengan hukum dan harus mendapatkan pidana penjara karena pengaruh buruk sahabat karibnya.
Pergaulan yang negatif berbahaya bagi tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, setiap anak perlu dilatih untuk membangun pertemanan yang sehat. Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan guna melatih anak membangun pertemanan yang sehat, antara lain sebagai berikut:
Menanamkan Nilai-nilai Keluarga
Rumah adalah sekolah pertama dan terutama bagi anak. Orang tua adalah guru pertama dan utama. Rumah adalah tempat pertama anak mendapatkan pendidikan nilai. Mengasihi diri sendiri secara sehat, sopan santun, mengasihi sesama, hormat kepada orang tua, menghargai hak orang lain, rendah hati, peka terhadap kebutuhan orang lain, jujur, setia, murah hati, penguasaan diri, rajin dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa sesuai dengan ajaran agama yang dipeluk adalah nilai-nilai yang harus ditanamkan kepada anak oleh orang tua dari rumah sejak dini. Anak-anak yang sudah ditanamkan nilai-nilai dari rumah cenderung mampu membangun pertemanan yang sehat. Nilai-nilai yang diterima dari orang tua akan ia jadikan sebagai filter kehidupan, termasuk dalam bergaul.
Menciptakan Komunikasi Terbuka dalam Keluarga
Komunikasi terbuka dalam keluarga akan membuat anak terlatih berkomunikasi secara terbuka. Anak menjadi mampu mengkomunikasikan dengan baik apa yang menjadi nilai-nilainya, pemikiran, maupun keinginannya. Ini adalah modal penting bagi anak dalam membangun pertemanan yang sehat.
Menjadi Orang Aman
Anak perlu tempat untuk mendiskusikan atau mendapatkan perspektif lain terkait apa yang ia temukan atau yang ia alami dalam pertemanannya. Itulah sebabnya, orang dewasa (terutama orang tua) perlu menjadikan diri sebagai orang aman. Menjadi orang aman berarti mau dan mampu mendengarkan anak dengan bijaksana, serta peka terhadap kondisi psikologis anak. Orang aman akan berbicara dengan efektif, tidak menghakimi, tidak mendikte dan bisa dipercaya.
Menciptakan Lingkungan Keluarga yang Kondusif
Keluarga yang kondusif adalah keluarga yang mampu menerima anak secara utuh dengan penuh kasih sayang. Di sana tidak ada pemaksaan kehendak, tekanan, intimidasi, dan kekerasan. Di sana setiap orang (termasuk anak) dihargai dan diterima sebagai individu yang unik dan berharga. Anak boleh mengungkapkan pendapatnya. Perasaan, pemikiran dan keinginannya dihargai. Dalam keluarga yang kondisif anak dididik dengan penuh kasih sayang sekaligus disiplin positif, serta didukung untuk berkembang dengan optimal. Anak yang berasal dari keluarga yang kondusif cenderung mampu membangun pertemanan yang sehat. Ia akan selektif dalam bergaul sehingga tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban atau melakukan hal-hal yang tidak benar hanya agar orang lain mau berteman dengannya.
Melatih Anak Melihat Dirinya secara Positif
Anak yang melihat dirinya secara positif tidak akan memerlukan apalagi mengejar validasi dari orang lain. Ia hanya melakukan apa yang terbaik yang dapat ia lakukan. Konsep diri positif merupakan energi bagi anak dalam belajar, berteman, dan berkarya. Sikap dan perilakunya dalam bersosialisasi, hasil belajarnya, atau karyanya akan bersuara lantang kepada dunia tentang siapa dirinya. Dia tidak mengejar pengakuan dari orang lain. Pengakuan itu akan datang dengan sendirinya seiring dengan prestasinya. Selain itu, anak yang melihat dirinya secara positif cenderung memiliki rasa percaya diri yang sehat. Hal ini memudahkannya dalam membangun pertemanan yang sehat.
Menanamkan pada Anak bahwa Orang Lain Sama Berharganya dengan Dirinya
Anak yang mampu melihat orang lain sama berharganya dengan dirinya akan memperlakukan orang lain dengan benar. Apa yang ia ingin orang lain perbuat kepadanya, itulah yang ia lakukan kepada orang lain. Anak seperti ini cenderung disukai dan dihormati oleh teman-temannya. Hal ini menjadi modal besar dalam membangun pertemanan yang sehat.
Melatih Anak Berani Berkata “Tidak”
Pertemanan yang positif adalah pertemanan yang tidak membuat anak melakukan hal-hal yang melanggar nilai-nilainya, yang merugikan dirinya sendiri atau orang lain, dan tidak melanggar hukum. Itulah sebabnya, anak harus dilatih untuk berani berkata “tidak”. Anak yang memiliki keberanian untuk berkata “tidak” akan terhindar dari pertemanan yang berbahaya atau tidak sehat.
Mangajar untuk Anak Selektif Bergaul
Selektif bergaul bukan berarti pilih-pilih teman dalam arti negatif, misalnya hanya mau berteman dengan anak yang dianggap pintar, cakep, atau anak orang kaya. Pada anak harus ditanamkan sikap mengasihi sesama, murah hati, sopan, dan bersikap baik kepada orang lain. Akan tetapi, anak perlu selektif dalam bergaul. Artinya, ia perlu membuat jarak aman dari orang-orang yang negatif, misalnya: orang yang suka merendahkan orang lain, yang suka membully, yang tidak sopan kepada guru, yang suka menyontek, yang tidak jujur, yang suka mengkonsumsi pornografi, dan lain sebagainya. Terhadap orang-orang seperti ini anak harus bersikap sopan, tetapi tidak perlu terlalu akrab. (SRP)
